Merymaswarita's Blog

Just another WordPress.com weblog

IMPLEMENTASI KTSP Desember 19, 2009

Filed under: Uncategorized — merymaswarita @ 4:12 pm

IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI SMP NEGERI 8 PALEMBANG

I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar belakang

Standarisasi dan profesionalisme pendidikan yang sedang dilakukan dewasa ini menuntut pemahaman berbagai pihak terhadap perubahan yang terjadi dalam berbagai komponen sistem pendidikan. Agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesimpangsiuran dalam menafsirkan kewenangan yang diberikan, dituntut pemahaman semua pihak terhadap berbagai kebijakan baik itu secara makro maupun mikro.

Setiap perubahan kurikulum diantisipasi dan dipahami oleh berbagai pihak. Hal ini dikarenakan dalam implementasinya kurikulum sebagai rancangan pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran, yang akan menentukan proses dan hasil belajar peserta didik.

Sehubungan dengan itu, diperlukan strategi implementasi kurikulum di sekolah yang efektif dan efisien, terutama dalam mengoptimalkan kualitas pembelajaran. Karena bagaimanapun baiknya sebuah kurikulum efektivitasnya sangat ditentukan dalam implementasinya di sekolah, khususnya di kelas.

Dalam hal ini, setiap perubahan kurikulum harus disikapi secara positif dengan mengkaji dan memahami implementasinya di sekolah, serta berbagai faktor yang mempengaruhinya, termasuk memahami kekuatan dan kelemahannya dalam kurikulum tersebut. Jika tidak, maka kita hanya akan bermain-main saja dengan perubahan kurikulum.

Keberhasilan atau kegagalan implementasi kurikulum disekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah, karena dua figur  tersebut merupakan kunci  yang menentukan serta menggerakan berbagai komponen dan dimensi sekolah yang lain. Dalam posisi tersebut baik buruknya komponen sekolah yang lain sangat ditentukan oleh kualitas guru dan kepala sekolah, tanpa mengurangi arti penting tenaga kependidikan lainnya, mereka dituntut untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaraan (RPP) berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang dapat digali dan dikembangkan oleh peserta didik.

Secara jujur harus diakui bahwa sukses tidaknya implementasi kurikulum sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru yang akan menerapkan dan mengaktualisasikan kurikulum tersebut dalam pembelajaran. Kemampuan guru tersebut terutama berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap implementasi kurikulum, serta tugas yang dibebankan kepadanya, karena tidak jarang kegagalan implementasi kurikulum di sekolah disebabkan oleh kurangnya pemahaman guru terhadap tugas-tugas yang harus dilaksanakannya.

Kondisi tersebut menunjukkan  bahwa berfungsinya kurikulum terletak pada bagaimana implementasinya di sekolah, khususnya di kelas dalam kegiatan pembelajaran, yang merupakan kunci keberhasilan tercapainya tujuan, serta terbentuknya kompetensi peserta didik.

Guru dan kurikulum adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Guru merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran, karena guru yang akan berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Melalui guru pula ilmu pengetahuan dapat ditransperkan. Dalam lingkup lebih luas lagi guru merupakan faktor penting dalam implementasi kurikulum disamping kepala sekolah dan tenaga administrasi.

1.2.  Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan  pertanyaan  penelitian sebagai berikut;

  1. Bagaimana pelaksanaan implementasi KTSP di lapangan ?
  2. Hambatan-hambatan apa saja dalam implementasi KTSP tersebut ?

1.3.  Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui;

  1. Sampai sejauh mana pemahaman guru tentang KTSP.
  2. Peranan kurikulum terhadap mutu pendidikan.
  3. Problematika guru dalam melaksanakan KTS

1.4.   Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah

  1. Dapat memberikan motivasi kepada pendidik untuk memberikan yang terbaik kepada peserta didik, karena pada dasarnya salah satu penentu keberhasilan penyempunaan kurikulum adalah pendidik itu sendiri.
  2. Dapat memberikan masukan kepada para pendidik bahwa keberhasilan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi sangat tergantung kepada partisipasi semua para pendidik dalam ikut serta mengatasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi.

II. PEMBAHASAN

2.1. Landasan Pengembangan KTSP

Landasan yang digunakan dalam penyelenggaraan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah :

  1. Landasan hukum

Landasan hukum untuk penyelenggaraan KTSP bisa mengacu pada:

a.  Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah bidang pendidikan dan   kebudayaan yaitu : pemerintah memiliki wewenang menetapkan: (1) standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan (2) standar materi pelajaran pokok.

b. Undang-undang No. 2 tahun 1989 Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian diganti dengan UU RI No. 20 tahun 2003 pada Bab X pasal 36 ayat: (1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia… dan pada pasal 38 ayat 1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh pemerintah.

c. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (5),   (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.

- Standar Isi (SI)

SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.

- Standar Kompetensi Lulusan (SKL)

SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006

- Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan permendiknas no. 22, dan 23.

2.2. Pengertian Kurikulum dan KTSP

Adanya kebijakan tersebut mengimplikasikan bahwa kurikulum tidak lagi disusun oleh pemerintah sebagaimana yang terjadi pada penyusunan kurikulum terdahulu (Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1999, dan KBK yang baru dipilotingkan dan disosialisasikan), akan tetapi kurikulum dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan yang sekarang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Asep Herry Hernawan dan Rudi Susilana, 2008. “Konsep Dasar Kurikulum”. http://www.upi.ac.id).

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan  tertentu.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa Kurikulum  adalah  berisi seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan nasional dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah dan sekolah .

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat (Dadang Sukirman, 2007. “Landasan Pengembangan Kurikulum“. http://www.upi.ac.id).

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya dengan memperhatikan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36.(dalam Mulyasa.E,200:12) Pada prinsipnya KTSP merupakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pilihan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi dilandasi oleh kenyataan bahwa lulusan pendidikan dalam kenyataannya tidak menguasai kompetensi dasar yang seharusnya mereka kuasai. Hal ini mengakibatkan pada sulitnya lulusan yang bisa menembus pasar kerja ataupun mengembangkan usaha sendiri.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa KTSP adalah suatu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

2.3. Karakteristik KTSP

KTSP merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah, yang akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Mengingat peserta didik datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial, salah perhatian sekolah harus ditunjukan pada asas pemerataan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Di sisi lain sekolah juga harus meningkatkan efisiensi, partisipasi, dan mutu, serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah.

Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian. (dalam Mulyasa, 2007:29)

Berdasarkan uraian diatas peneliti, dapat menyimpulkan bahwa karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan, serta sistem penilaian.

2.4. Prinsip Pengembangan KTSP

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah : KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut;

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

2.  Beragam dan terpadu

3.  Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

4.  Relevan dengan kebutuhan kehidupan

5.  Menyeluruh dan berkesinambungan

6.  Belajar sepanjang hayat

7.  Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Selain itu,   KTSP   disusun   dengan  memperhatikan  acuan  operasional  sebagai berikut;
a. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
b. Peningkatan potensi,kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa
c. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
d. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
e. Tuntutan dunia kerja
f. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
g. Agama
h. Dinamika perkembangan global
i. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
j. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
k. Kesetaraan gender
l. Karakteristik satuan pendidikan

2.5.  Tujuan KTSP
Tujuan  ditetapkan KTSP  adalah  untuk mendirikan  dan  memberdayakan satuan   pendidikan   melalui   pemberian  kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan   dan  mendorong  sekolah  untuk  melakukan  pengambilan keputusan secara   partisipatif   dalam   mengembangkan   kurikulum.  Secara  khusus  tujuan ditetapkan KTSP adalah untuk;
a. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
b. Meningkatkan  kompetensi  yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang dicapai.
c. Meningkatkan   mutu   pendidikan   melelui  kemandirian  dan  inisiatif  sekolah dalam mengembangkan kurikulum,  mengelola dan  memberdayakan  sumberdaya yang tersedia.

2.6.  Implementasi Kurikulum

Dalam bukunya yang berjudul “Curriculum: Perspective, Paradigm, and Possibility”, Schubert (1986) mengemukakan delapan wilayah kajian studi krikulum. Salah satunya adalah implementasi kurikulum (Schubert, 1986; Hasan, 1988). Sebagai suatu bidang studi yang mandiri, implementasi kurikulum memiliki tujuan  dan prosedur sendiri.

Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan Miller dan Seller (1985:13) bahwa “in some cases implementation has been identified with instruction…”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. (dalam Mulyasa, 2009:179).

Berdasarkan uraian diatas peneliti, dapat menyimpulkan bahwa implementasi kurikulum adalah operasionalisasi konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, implementasi kurikulum merupakan hasil terjemahan guru terhadap kurikulum yang dijabarkan ke dalam silabus dan rencana pelaksanaan (RPP) sebagai rencana tertulis.

Implementasi KTSP adalah bagaimana menyampaikan pesan-pesan kurikulum kepada peserta didik untuk membentuk kompetensi mereka sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing. Tugas guru dalam implementasi KTSP adalah bagaimana memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, agar mereka mampu berinteraksi dengan lingkungan eksternal sehingga terjadi perubahan perilaku sesuai dengan yang dikemukakkan dalam standar isi (SI) dan Standar kompetensi lulusan (SKL).

Implementasi kurikulum setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu sebagai berikut ;

  1. Karakteristik kurikulum; yang mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasannya bagi pengguna di lapangan.
  2. Strategi implementasi; yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, loka karya, penyedian buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum dilapangan.
  3. Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum dalam pembelajaran (dalam Mulyasa, 2009:179-180).

Implementasi KTSP akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan kurikulum (SK-KD) dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan optimal. Guru harus berupaya agar peserta didik dapat membentuk kompetensi dirinya sesuai dengan apa yang digariskan dalam kurikulum (SK-KD), sebagaimana dijabarkan  dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam hal ini akan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku tersebut. Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yakni pembukaan, pembentukan kompetensi dan penutup.

2.7.  Keunggulan Dan Kelemahan KTSP

KTSP yang juga merupakan, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memiliki berbagai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan konsep ini, meski bukan format satu-satunya untuk mengantisipasi permasalahan pendidikan, namun secara umum, KTSP bisa ‘diandalkan’ menjadi patokan menghadapi tantangan masa depan dengan pembekalan keterampilan pada peserta didik. Keunggulan lain, KTSP memiliki kemampuan beradaptasi dengan daerah setempat, karena keterampilan yang diajarkan berdasarkan pada lingkungan dan kemampuan peserta didik. Di samping itu juga adanya penghargaan bagi pribadi peserta didik. Peserta didik yang mampu menyerap materi dengan cepat akan diberi tambahan materi sebagai pengayaan, dan peserta didik yang kurang akan ditangani oleh guru dengan penuh kesabaran dengan mengulang materinya atau memberi remedial. Peserta didik juga diajak bicara, diskusi, wawancara dan membahas masalah-masalah yang kontekstual, yang dalam kenyataannya memang diperlukan sehingga peserta didik menjadi lebih mengerti dan menjiwai permasalahannya karena sesuai dengan keadaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Peserta. didik tidak hanya dituntut untuk menghafal namun yang lebih penting sudah adalah belajar proses sehingga men dorong peserta didik untuk meneliti dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, kesulitan yang mungkin saja timbul dari pelaksanaan KTSP ini adalah diperlukannya waktu yang cukup oleh pendidik dalam membina perkembangan peserta didiknya, terutama peserta didik yang berkemampuan di bawah rata-rata. Kenyataan membuktikan, kondisi sosial dan ekonomi yang menghimpit kesejahteraan hidup para guru, menyebabkan mereka kurang berkonsentrasi dalam proses pembelajaran. Belum lagi mengingat kualitas guru yang kurang merata di setiap daerah. Ini artinya, KTSP menghadapi kendala daya kreativitas dan beragamnya kapasitas guru untuk membuat kurikulum sendiri.

Kendala lain, KTSP menuntut kemampuan guru dalam menjalankan pembelajaran berbasis kompetensi dengan merencanakan sendiri bagaimana strategi yang tepat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah setempat. Di samping masalah fasilitas pendidikan di sekolah yang masih sangat minim. Padahal konsep ini lebih menitikberatkan pada praktek di lapangan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dibanding teori semata. Kendala lain yang dialami guru adalah ketidakpahaman mengenai apa dan bagaimana melakukan evaluasi dengan portofolio. Karena ketidakpahaman ini mereka kembali kepada pola assessment lama dengan tes-tes dan ulangan-ulangan yang cognitive-based semata. Tidak adanya model sekolah yang bisa dijadikan sebagai rujukan membuat para guru tidak mampu melakukan perubahan, apalagi lompatan, dalam proses peningkatan kegiatan belajar mengararnya.

Berkenaan dengan tidak adanya target materi dalam KTSP, di satu pihak KTSP menekankan kompetensi peserta didik yang berarti proses belajar harus diperhatikan oleh guru, di pihak lain materi meskipun tidak diprioritaskan tetapi akhirnya harus diselesaikan juga. Dengan demikian guru harus berpacu dengan waktu, sementara proses belajar tidak dapat dipastikan keberhasilannya. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik yang dibinanya, yang berujung pada penolakan kebijakan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) sebagai dasar penentuan kelulusan peserta didiknya.

2.8. Guru Sebagai Fasilitator Dalam Membantu Peserta Didik Membangun Pengetahuan

Salah satu ciri pembelajaran efektif adalah mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya (Dit-PLP, 2003). Ciri inilah yang dikembangkan dalam pembelajaran KTSP dan berkaitan dengan filsafat konstruktivisme.

Tugas penting guru pada pendidikan formal di sekolah di antaranya adalah membantu peserta didik untuk mengenal dan mengetahui sesuatu, terutama memperoleh pengetahuan. Dalam pengertian konstruktivisme, pengetahuan itu merupakan “proses menjadi”, yang pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi dan peserta didik itu sendiri yang membentuknya.

Peran guru atau pendidik adalah sebagai fasilitator atau moderator dan tugasnya adalah merangsang atau memberikan stimulus, membantu peserta didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengertiannya. Guru juga mengevaluasi apakah gagasan peserta didik itu sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak. Sedangkan tugas peserta didik aktif belajar, mencerna, dan memodifikasi gagasan sebelumnya. Dalam KTSP dianut bentuk pembelajaran yang ideal yaitu pembelajaran peserta didik aktif dan kritis. Peserta didik tidak kosong, tetapi sudah ada pengertian awal tertentu yang harus dibantu untuk berkembang. Maka modelnya adalah model dialogis, model mencari bersama antara guru dan peserta didik. Peserta didik dapat mengungkapkan gagasannya, dapat mengkritik pendapat guru yang dianggap kurang tepat, dapat mengungkapkan jalan pikirannya yang lain dari guru. Guru tidak menjadi diktator yang hanya menekankan satu nilai satu jalan keluar, tetapi lebih demokratis. Dalam KTSP, pendidikan yang benar harus membebaskan peserta didik untuk berpikir, berkreasi, dan berkembang.

Implementasi KTSP sebenarnya membutuhkan penciptaan iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru, mulai dari rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Hal ini berkaitan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktor atau selalu memberi instruksi dan kini menjadi fasilitator pembelajaran. Guru dapat melakukan upaya-upaya kreatif serta inovatif dalam bentuk penelitian tindakan terhadap berbagai teknik atau model pengelolaan pembelajaran yang mampu menghasilkan lulusan yang kompeten.

2.9.  Perlunya Perubahan Paradigma Mengajar

Dengan KTSP, guru mengajar supaya peserta didik memahami yang diajarkan dan mampu memanfaatkannya dengan menerapkan pemahamannya baik untuk memahami alami lingkungan sekitar maupun untuk solusi atau pemecahan masalah sehari-hari. Kegiatan mengajar bukan sekedar mengingat fakta untuk persediaan jawaban tes sewaktu ujian. Akan tetapi, kegiatan mengajar juga diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menumbuhkan sejumlah sikap positif yang direfleksikan peserta didik melalui cara berpikir dan cara bertindak atau berperilaku sebagai dampak hasil belajamya. Oleh karena itu cara guru mengajar perlu diubah. Ditinjau dari esensi proses pembelajarannya, perlu adanya pengubahan paradigma “mengajar” (teaching) menjadi “membelajarkan” (learning how to learn) sehingga proses belajarnya cenderung dinamis dan bersifat praktis dan analitis dalam dua dimensi yaitu: pengembangan proses eksplorasi dan proses kreativitas. Proses eksplorasi menjadi titik pijak untuk menggali pengalaman dan penghayatan khas peserta didik, bukan dari pihak luar, bukan dari apa yang dimaui orang tua, guru, maupun masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Dari proses tersebut dikembangkan prakarsa untuk bereksperimen-kreatif, berimajinasi-kreatif dengan metode belajar yang memungkinkan peserta didik untuk melatih inisiatif berpikir, mentradisikan aktivitas kreatif, mengembangkan kemerdekaan berpikir, mengeluarkan ide, menumbuhkan kenikmatan bekerjasama, memecahkan masalah-masalah hidup dan kehidupan nyata. Karena itu, dalam proses pembelajaran seharusnya tampak dalam bentuk kegiatan prakarsa bebas (independent study), komunikasi dialogis antar peserta didik maupun antara peserta didik dan guru, spontanitas kreatif, yang kadang-kadang terkesan kurang tertib menurut pandangan pendidikan. Guru perlu menyediakan beragam kegiatan pembelajaran yang berimplikasi pada beragamnya pengalaman belajar supaya peserta didik mampu mengembangkan kompetensi setelah menerapkan pemahamannya pengetahuannya. Untuk itu strategi belajar aktif melalui multi ragam metode sangat sesuai untuk digunakan ketika akan menerapkan KTSP.

Dalam pendidikan matematika, Marpaung (2003) menyatakan perlunya melakukan perubahan/ pergeseran paradigma dari paradigma mengajar ke paradigma belajar. Lebih lanjut Marpaung memerinci karakteristik paradigma belajar, yaitu: peserta didik aktif guru aktif, pengetahuan dikonstruksi, menekankan proses dan produk, pembelajaran luwes dan menyenangkan, sinergi pikiran dan tubuh, berorientasi pada peserta didik, asesmen bersifat realistik, dan kemampuan sebagai suatu penguasaan hubungan antar pengetahuan yang tersusun dalam suatu jaringan. Untuk itu dituntut komitmen guru untuk berubah, bersikap sabar, bersikap positif, ramah dan memiliki kompetensi tinggi. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru tidak hanya berupa penilaian “tradisional” yaitu hanya melakukan kegiatan ulangan harian tetapi perlu dikembangkan penilaian “alternatif”, antara lain adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Sebagai penjabarannya antara lain, portofolio; merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan peserta didik dalam konteks belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar sekaligus memperoleh kesempatan luas untuk berkembang serta merekapun termotivasi. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan melihat pada proses peserta didik sebagai pembelajaran aktif. Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk melakukan survei mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.

Tugas kelompok, dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing peserta didik. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata, oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi peserta didik. Sebagai contoh, peserta didik diminta membentuk kelompok projek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan peserta didik.

Demonstrasi, peserta didik diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Demonstrasi ini dapat dilakukan di kelas atau di luar kelas. Di dalam kelas antara lain dapat dilakukan dalam kegiatan laboratorium IPA, di lapangan olahraga untuk Pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Di luar kelas antara lain peserta didik diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama dan mementaskannya dalam pertunjukan, para penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukan peserta didik.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian kurikulum pada tahap implementasi, adalah penilaian yang dilakukan pada saat kurikulum sedang diujicoba dalam skala kecil di sekolah. Untuk menjawab permasalahan penelitian, digunakan desain survey. Dengan desain ini peneliti tidak melakukan manipulasi ataupun control terhadap variabel. Hal ini didasarkan pemikiran bahwa informasi mengenai variabel yang diteliti sudah tersedia di lapangan. Peneliti sebagai evaluator tidak perlu menciptakan situasi khusus untuk mendapatkan informasi yang ada.

3.1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan. Implementasi adalah pelaksanaan atau penerapan kurikulum sebagai proses kegiatan mulai dari perencanaan sampai menjadi kegiatan di kelas sebagai indikatornya adalah silabus dan sistem penilaian hasil belajar yang dikembangkan guru berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

3.2.  Subyek penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah guru-guru yang menetapkan KTSP dan mengajar dalam kelompok mata pelajaran IPS dikelas VII (Ekonomi, Sejarah dan Geografi) sebanyak 3 (tiga) orang. Selain tiga orang guru IPS sebagai subyek dan responden penelitian. Peneliti juga mencari sumber data pendukung yaitu 1 orang wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum.

3.3.  Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Kuesioner dikembangkan secara khusus berdasarkan kriteria yang dimiliki kurikulum tingkat satuan pendidikan. Wawancara digunakan untuk melengkapi data kuesioner dalam rangka memperjelas jawaban yang diberikan responden melalui kuesioner.

3.4.  Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif, dengan menggunakan model Stake.

Gambar. 1 : Model Analisis Data Deskriptif menurut Stake

Antecedents yang diamati observer
Antecedentsi yang  di- harapkan

d

ha

d d

conguence

Contigency logis                                                            Contigency empirik

Transaksi yang diamati
Transaksi yang  diharapkan

conguence

Contigency logis                                                             Contigency empirik

Hasil yang diharapkan
Transaksi yang diamati

congruence

Dalam model stake tersebut diatas, dianalisis data dapat dilakukan dengan dua cara penilaian. Pertama contingencies (keterhubungan), digunakan untuk mengolah data secara vertikal, yaitu mencari keterhubungan antara antecedent (persyaratan awal), taransaction (interaksi), dan juga outcomes hasil antara kurikulum dalam rencana (diatas kertas) dengan yang terjadi di lapangan (implementasi). Kedua congruence (kesesuaian), digunakan untuk mengolah data secara horizontal yang diharapkan (kriteria) dan yang nyata terjadi. Dalam penilaian secara congruence data dianalisis untuk melihat apakah yang direncanakan dalam tujuan memang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Apakah terjadi penyimpangan dan kalau ada faktor apa yang menyebabkannya.

Analisis data dalam penelitian ini hanya menggunakan cara congruence dengan mencoba mengkaji kesesuaian setiap aspek kurikulum mulai dari kesesuaian persyaratan awal, taransaksi, dan hasil belajar. Setiap aspek dinilai apakah terdapat kesesuaian antara KTSP yang diharapkan (dikembangkan berdasarkan kriterianya) dengan KTSP yang diimplementasikan di sekolah atau di kelas.

3.5.  Analisis Data dan Pembahasan

KTSP merupakan inovasi dalam kurikulum pembelajaran di tingkat sekolah menengah pertama berbasis kompetensi adalah kurikulum yang dikembangkan dengan prinsip; 1) mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan (berisi prinsip-prinsip pokok, bersifat fleksibel sesuai dengan zaman dan IPTEK). 2) pengembangannya melalui proses akreditasi yang memungkinkan mata pelajaran dimodifikasi. Sedangkan pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indicator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai.

Untuk melaksanakan KTSP sesuai dengan prinsip dan karakteristik yang terkandung dalam kurikulum itu sendiri, maka ada beberapa factor yang perlu dipahami sekolah dan guru mata pelajaran. Faktor tersebut antara lain; 1) prinsip dalam pengembangan silabus, 2) prinsip dalam melakukan penilaian hasil belajar.

Dalam mengembangkan silabus. Sekolah dan guru perlu memahami pedoman umum maupun khusus tentang bagaimana mengembangkan silabus dan sistem penilaian. Kedua faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut ;

  1. Uraian Materi Pembelajaran

Uraian materi pembelajaran merupakan penjabaran lebih lanjut dari materi pokok dalam KTSP. Uraian ini diperlukan dalam rangka memberikan gambaran secara jelas mengenai materi yang harus dipelajari guna mencapai kemampuan dasar yang telah ditetapkan. Adapun prinsip yang digunakan dalam perumusan uraian materi pembelajaran adalah;

  1. Sistematis, artinya setiap materi saling berkaitan
  2. Relevansi, artinya terdapat keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sinkron antara materi pembelajaran dengan kemampuan dasar yang ingin dicapai.
  3. Konsistensi, adanya kesinambungan antara kemampuan dasar, standar kompetensi, dan materi pembelajaran dan pengalaman belajar.
  4. Kecukupan, artinya cakupan materi memadai untuk mendukung tercapainya standar kompetensi.
  5. Pemilihan Pengalaman Belajar

Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan oleh siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar, dan materi pembelajaran. Adapun prinsip pemilihan pengalaman pembelajaran adalah;

  1. Tempat, di dalam kelas atau di luar kelas.
  2. Pendekatan, Teaching-learning. Guru sebagai pelatih dan fasilitator.
  3. Mengembangkan kecakapan hidup (life skill)
  4. Mencakup sumber belajar, baik sumber bahan maupun sumber alat.
  5. Alokasi waktu

Dalam menentukan alokasi waktu yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesukaran materi, luas cakupan materi, dan frekuensi serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari. Semakin sukar, luas, dan penting suatu materi pembelajaran sangat penting (urgen), dalam rangka mencapai standar kompetensi yang ditetapkan porsi waktu yang disediakan untuk materi ini harus lebih banyak dari pada materi yang kurang begitu penting.

Alokasi waktu untuk tiap materi pembelajaran ditentukan setelah diketahui berapa banyak waktu yang efektif untuk kegiatan pembelajaran di tiap jenjang kelas dan semester. Adapun criteria penetapan waktu pembelajaran adalah;

  1. Kompleksitas
  2. Frekuensi penggunaan
  3. Banyak materi
  4. Pentingnya materi
  5. Sumber Bahan dan Alat

Di dalam silabus, guru harus mencantumkan sumber bahan yang dijadikan acuan dan sumber alat yang dipakai dalam pembelajaran. Sumber bahan terdiri atas: buku teks, buku kurikulum, jurnal, hasil penelitian, penerbitan berkala, dan lain-lain. Sedangkan sumber alat yang dapat dipakai adalah; bahan praktek, computer, alat peraga, audio visual.

Sebelum menentukan sumber bahan dan alat, kegiatan yang perlu dilakukan guru meliputi;

  1. Pengadaan dan pemanfaatan sumber dan alat belajar
    1. Mengidentifikasi kebutuhan sumber dan alat belajar
    2. Menginventarisir sumber dan alat pendukungnya ( di dalam dan di luar sekolah)
    3. Menyesuaikan antara kebutuhan sumber dan sarana belajar yang tersedia, kemudian melakukan modifikasi
    4. Memanfaatkan sumber dan sarana belajar
      1. Mengidentifikasi kebutuhan
      2. Mengidentifikasi potensi yang tersedia
      3. Pengelompokkan sumber belajar dalam kelompok; lingkungan alam sekitar, perpustakaan, media cetak, nara sumber, karya wisata dan computer
      4. Menganalisis relevansi antara ketersedian sumber belajar dan kebutuhan
      5. Menentukan dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia
      6. Cara Penilaian Hasil Pembelajaran
        1. Acuan criteria
        2. Pemilihan mencakup tiga aspek, yaitu; kognitif, psikomotor, dan afektif
        3. Didasarkan pada materi esensial yang benar-benar relevan dengan kompetensi yang harus dicapai siswa
        4. Keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan berdasarkan pencapaian kompetensi tertentu dan bukan didasarkan atas perbandingan dengan hasil belajar siswa lain
        5. Ujian menggunakan berbagai teknik, yaitu; performance test, objective test, portofolio)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap implementasi kurikulum KTSP mata pelajaran Ekonomi, Sejarah, dan Geografi maka dapat disimpulkan sebagai berikut ;

  1. Pada persyaratan awal, implementasi KTSP belum terlaksana sesuai dengan kriteria KTSP. Hal ini dapat dilihat belum memadainya dokumen KTSP secara lengkap; a) buku pedoman umum dan khusus pengembangan silabus, b) buku pedoman umum dan khusus sistem pengujian berbasis kompetensi.
  2. Pengembangan KTSP di sekolah belum terlaksana dengan baik, karena guru belum terlibat secara penuh dalam pengembangan silabus dan sistem pengujian tersebut. Hal ini terlihat dari kelemahan guru dalam mengembangkan pengalaman belajar ke dalam aktivitas belajar.
  3. Peran guru dalam pembelajaran masih dominan, sehingga aktivitas belajar masih terfokus pada apa yang diinstruksikan guru (teacher centered).
  4. Teknik pengujian masih bersifat objective test, sehingga sulit mengukur aspek afektif dan psikomotor siswa.
  5. Kecakapan hidup yang seharusnya telah diintergasikan ke dalam pembelajaran belum terjadi. Sehingga fokus aktivitas pembelajaran masih pada upaya pencapaian tujuan bukan pada proses
  6. Hambatan –hambatan yang dihadapi guru dan sekolah, antara lain; 1) informasi yang diterima tentang pengembangan KTSP di sekolah tidak utuh, sehingga guru dan sekolah belum memahami secara penuh pelaksanaan KTSP tersebut, b) pembinaan bagi sekolah dari dinas diknas kota Palembang dalam rangka implementasi KTSP tidak lengkap hal ini terlihat antara lain, guru belum memahami masalah Life skill, c) jumlah rombongan belajar terlalu padat (40 orang perkelas), akibatnya guru sulit untuk melakukan pengelolaan kelas dan penilaian berbasis Kemampuan Dasar, khususnya dalam mengukur performance dan psikomotor siswa.

4.2.  Saran

  1. KTSP perlu disosialisasikan secara utuh, yang meliputi; a) pengembangan silabus, b) pengembangan sistem pengujian berbasis kelas, c) pengintegrasian life skill ke dalam silabus, d) modifikasi model pembelajaran.
  2. Sekolah perlu melengkapi pedoman – pedoman pelaksanaan KTSP.
  3. Pembinaan dan pelatihan serta monitoring implementasi KTSP perlu dilakukan secra continue mengingat KTSP adalah kurikulum yang sangat fleksibel dalam pelaksanaannya sehingga menuntut adanya kejelian dari para pelaksana kurikulum tersebut dalam memodifikasinya tanpa harus mengurangi karakteristik kurikulum itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Asep Herry Hernawan dan Rudi Susilana. “Konsep Dasar Kurikulum”. www.upi.

ac.id, 2008

Dadang Sukirman. “Landasan Pengembangan Kurikulum“. www.upi.ac.id, 2007

Hasan. Evaluasi Kurikulum. Jakarta :  Depdikbud, Dirjendikti. PPLPTK, 1988

Mungin,Eddy. Pedoman  Penyusunan   Kurikulum   Tingkat   Satuan   Pendidikan.

Jakarta: BSBP, 2008

Mulyasa. Implementasi   Kurikulum   Tingkat  Satuan  Pendidikan. Cet.2; Jakarta:

Bumi Aksara, 2009

Mulyasa. Kurikulum   Tingkat  Satuan  Pendidikan.  Cet.4; Bandung:  PT. Remaja

Rosdakarya, 2007

Nasution.  Pengembangan   Kurikulum. Cet.9; Bandung: PT.  Citra  Aditya  Bakti,

2002

Yamin, Martinis. Paradigma  Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Gaung Persada

Press, 20

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.